Ironi Pendidikan Jadi Lahan Korupsi,jika ketahuan publik dugaan korupsi muncul Niat mencari Tumbal

Sumba Barat Daya -Suara Maureket.com Selama ini seiring waktu berjalan dan perkembangan didunia pendidikan serta perkembangan dan kemajuan dibidang pendidikan semakin laju kini,contoh soal Seorang pengelolah yayasan Tunas Timur mulai berkarya demi kemajuan pendidikan tuturnya begitu,belakang diketahuai ada dugaan kuropsi dana bos 12 M

Korupsi di sektor pendidikan bukan hanya sekadar kerugian finansial, melainkan ancaman sistematis terhadap masa depan bangsa. Praktik lancung oleh koruptor dan kroninya merusak pendidikan melalui beberapa jalur utama:

Dari tahun ke tahun, fenomena korupsi di sektor pendidikan begitu meresahkan, seperti tak ada hentinya; ibarat mati satu, tumbuh seribu. Mereka yang terlibat korupsi baru seperti tak pernah belajar dengan kasus-kasus sebelumnya, justru tak malu-malu melakukan perbuatan culas itu.

Indonesia Corruption Watch dalam sebuah kajian tren kasus korupsi antara 2016 hingga 2021 menyebutkan korupsi di sektor pendidikan masuk dalam lima besar korupsi di Indonesia berdasarkan sektor. Adapun sektor lainnya sektor anggaran desa, pemerintahan, transportasi, dan perbankan.

Tapi aneh nya dibalik muncul skandal rencana lain dari mendidik menjadi orang baik bagi generasi penerus bangsa,namun niat itu berbalik dari jalan lurus menjadi barang bengkok dengan manfaat kan yayasan yang dibagun untuk kepentingan membangun pribadi dan berdalih karena saya punya otak yang dijual untuk membangun karakter Korupsi bersama ini nama nya konyol dan bahkan bukan mencerdaskan anak bangsa tapi mengajak dugaan curi uang negara bersama kroni-kroni karena penghasilan berbeda-beda maka muncul saling tuding itulah rencana busuk kalau bukan murni membangun karakter bangsa dan pendidikkan tapi membangun karakter dugaan curi dengan saling bersekokol aneh negri pulau sumba ini.

Pada hal para pendiri negeri ini bukan mencari keuntungan dalam pendidikan akan tetapi membangun citra bangsa dan negara serta generasi pelanjut ,media ini juga telah menelusuri dan mewawancarai langsung ki Nanang cucu ki Hajar Dewan tara kakek Dahulu membangun pendidikkan menjadi seorang pakir dan mempertahankan harga diri bangsa ini dari bangsa penjajah sehingga beliau mendirikan Yayasan tamansiswa tuturnya

Bukan tempat mencari keuntungan dipendidikan itu tapi bagaimana membangun karakter bangsa ini dan citra bangsa ujarnya hingga saat yayasan tamansiswa dikelolah secara keorganisasian bukan secara yayasan indepeden pribadi dan keuntungan keluarga imbuhnya

Pendidikan yang dibangun oleh Ki Hajar Dewantara, khususnya melalui lembaga Taman Siswa, bertujuan untuk memerdekakan manusia secara lahir dan batin, serta membentuk watak bangsa yang berkarakter, mandiri, dan berbudaya.

Berikut adalah poin-poin utama tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara:

Pendidikan yang Memerdekakan (Kemerdekaan Belajar):
-Tujuan utama pendidikan adalah mencapai kemerdekaan. Setiap orang bisa memilih menjadi apa saja dengan tetap menghargai kemerdekaan orang lain. Ini adalah landasan -“Merdeka Belajar” di mana pengajaran bertumpu pada asas among (melayani murid).
Menuntun Kodrat Anak:

-Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Pembentukan Karakter dan Budi Pekerti: Pendidikan berfokus pada pengembangan seluruh aspek manusia—fisik, mental, sosial, dan spiritual—untuk menciptakan manusia yang utuh.

Ini termasuk menanamkan nilai moral untuk membentuk peradaban bangsa yang bermartabat.
Membangkitkan Kesadaran Nasional: Melalui Taman Siswa, Ki Hajar bertujuan membangkitkan kesadaran nasional dan jiwa kebangsaan melalui pendidikan yang berlandaskan budaya lokal.
Pendidikan untuk Semua: Pendidikan harus terjangkau dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya kaum bangsawan, untuk meningkatkan kualitas pembangunan manusia Indonesia.

Prinsip dasar yang diterapkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah Tri Pusat Pendidikan (sinergi antara alam keluarga, perguruan, dan masyarakat) dan semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Beberapa para ahli telah mengkaji tentang dunia pendidikan itu hanya dengan niat mencari keuntungan

Jangan pernah kita bermimpi membangun pendidikan kalau diawali dengan niat keuntungan.jangan mencetak sarjana dengan ajaran kita yang punya niat mencari keuntungan dalam dunia pendidikan ,apalagi mengajak para sarjana untuk mengajarkan karakter kuropsi maka ini merupakan cermin menghancurkan karakter budi pekerti kita dan karakter jadi diri itu mana mungkin pendidikan bisa berkembang jika masih ada embrio ekor tikus yang sedang bergoyang menghitung jumlah beras didalam karung.

Efek nya akan banyak pengaguran dan pengamen birokrasi tersusun rapi maka celakalah dunia pendidikan itu jika tujuan pendidikan dicontreng elagak mencari tumbal (Tim redaksi)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *