Hakikat Puasa Romadhon Menurut Nabi Muhammad saw

Kodi (waiha Lero) -Suara Maureket.com hari Jumat 6 Maret 2026 oleh Muh.D.Mone AL Mughni.SHi.M.Pd .Gr

Dengan judul kotbah : Hakikat Puasa Romadhon Menurut Nabi Muhammad saw di Mesjid Raden Bilal Waiha lero desa Wura Homba kec.Kodi kab.Sumba Barat Daya

اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوٰى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مَحَمَّدٍ الْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. يَاۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءٰمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Bulan Ramadhan adalah satu-satunya bulan dalam sistem penanggalan Hijriah yang disebut dalam Al-Qur’an. Ketika Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan kemuliaan Ramadhan, maka beliau bersabda:

رَمَضَانُ شَهْرُ اللهِ وَفَضْلُهُ عَلَى سَائِرِ الشُهُوْرِ كَفَضْلِ اللهِ. عَلَى خَلْقِهِ

Artinya: “Ramadhan adalah bulan Allah. Keutamaannya dibanding bulan-bulan lain adalah bagaikan keutamaan Allah dibanding dengan makhluk-Nya” (Syekh Nashr ibn Muhammad as-Samarqandi, Tanbihu-l Ghafilin fi Ahaditsi Sayyidi-l Anbiyai wal Mursalin, Darul Kutubil Ilmiyyah, h. 186) Dalam satu kesempatan ketika ketika Ramadhan tiba,

Hadirin jamaah jumat Rahimakumullah

Salam sholawat kita sampaikan kepada Junjungan Nabi Muhhamad Saw yang membawah kita dari Jaman jahiliyah hingga jaman teknologi ini ,Pertama-tama kotib berwaksiat pada diri kotib sendiri dan pada umumnya jamaah Rahimakumullah atas pertolongan Allah swt sehingga kita dapat berkumpul kembali dimesjid Raden Billah ini
Ijin kan saya membawah judul Kotbah.

Hakikat Puasa Ramadhan Menurut Nabi SAW (Hadis) ada beberapa Tahap yakni

1.Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa) : Puasa yang dilakukan dengan iman dan keikhlasan akan menghapus dosa-dosa yang telah lalu.Oleh Imam Al Ghozali memberikan tingkatan Nafs pada diri manusia yang harus ditenang ketika puasa diantaranya adalah:

Tingkatan Nafs menurut Imam Al-Ghazali:

Nafs al-Ammarah: Jiwa yang mendorong kepada keburukan dan syahwat.

Nafs al-Lawwamah: Jiwa yang mulai sadar dan menyesali perbuatan dosa, namun masih belum konsisten.

Nafs al-Muthmainnah: Jiwa yang tenang, suci, dan tunduk sepenuhnya kepada Allah,Pada saat kita shaur disaat itulah nafsu muthamainnah kita berikan karena memang diciptakan sebagai sunantullah,selanjutnya Tazkiyatun nafs menurut Imam Al-Ghazali adalah proses penyucian jiwa dari penyakit hati (sifat tercela) dan menghiasinya dengan akhlak terpuji (mahmudah) melalui metode takhalli (pembersihan), tahalli (pengisian), dan tajalli (penyinaran). Tujuannya mencapai nafs muthmainnah (jiwa tenang) dan kedekatan kepada Allah.

Hadirin jamaah jumat Rahimakumullah

Oleh Ibnu Rusyd terkait tazkiyatun nafs:
Penyucian melalui Akal: Bagi Ibnu Rusyd, jiwa yang suci adalah jiwa yang cerdas dan berilmu. Ia menekankan bahwa penyucian jiwa terjadi melalui kesempurnaan intelektual, yang memungkinkan jiwa terhubung dengan akal aktif (universal).
Akal dan Iman Bersinergi: Ibnu Rusyd berpendapat bahwa mengenal Allah dengan akal akan membuahkan iman yang lebih kokoh, menunjukkan bahwa pendekatan intelektual tidak terpisah dari tazkiyatun nafs.
Ruh sebagai Kesempurnaan: Ia memandang ruh (jiwa) sebagai kesempurnaan awal bagi jasad alami yang organik, yang menuntut pemeliharaan dan penyucian agar mencapai derajat tinggi.
Kekekalan Jiwa Intelektual: Hanya jiwa yang telah mencapai kesempurnaan intelektual (melalui proses penyucian/ilmu) yang diyakini dapat tetap eksis pascakematian dalam kerangka intelektual universal.

2 .Ash-Shiyaamu Junnah( الصِّيَامُ جُنَّةٌ)
Arti: “Puasa adalah perisai (pelindung)” dari dosa

Perisai dari Dosa: Puasa adalah benteng yang melindungi dari api neraka dan perilaku buruk, selama tidak dirusak dengan dusta, ghibah, atau sumpah palsu

3.Ibadah Mahdhah (عبادة محضة).artinya ibadah khusus

Ibadah Khusus: Puasa adalah amal batin yang murni untuk Allah, tidak disaksikan makhluk, sehingga balasannya langsung dari Allah

4.Tanbiihaat fish Shiyaam.( تَنْبِيهَاتٌ فِي الصِّيَامِ )

Artinya: Peringatan-peringatan/catatan penting dalam puasa sedangkan konteks Peringatan dalam yakni : Banyak orang berpuasa namun hanya mendapat lapar dan dahaga karena tidak menjaga lisan dan perbuatan

Hadirin jamaah jumat Rahimakumullah

Prihal ini oleh nabi Muhammad saw telah bersabda Dalam lain waktu, Nabi Muhammad SAW menjelaskan keutamaan puasa Ramadhan

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dalam keadaan iman dan ihtisab, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, Khashaisu Ummatil Muhammadiyyah, Hai’atu-sh Shofwati-l Malikiyyah, h. 192)

Oleh karena itu, seyogianya kita dalam menjalani puasa Ramadhan mengetahui kemuliaan ibadah ini, menjaga lisan dari bohong, ghibah, fitnah, menjaga anggota badan dari perbuatan maksiat, menjaga hati dari sifat hasad, dan tidak memusuhi sesama. Jika kita tidak menjauhi sifat-sifat tercela tersebut, maka dikhawatirkan kita masuk dalam golongan orang yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ اِلَّا الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ

Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapat secuil apapun dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus” (Imam al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, bab Adabu-sh Shiyam)

Hadirin jamaah jumat Rahimakumullah

Kesimpulan dari kotbah ini bahwa Bulan Ramadhan tidak melulu tentang kemuliaan, tapi ada juga ancaman yang ditujukan bagi segelintir orang. Dikisahkan ketika Nabi menaiki mimbar, pada tangga pertama beliau berucap âmîn. Pada tangga kedua dan ketiga beliau juga berucap âmîn. Para sahabat akhirnya bertanya, “Wahai Rasulullah, kami mendengar engkau mengucapkan âmîn tiga kali.” Nabi menjelaskan, “Pada tangga pertama tadi, Jibril mendatangiku dan mengatakan:

شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

Artinya: “Celaka orang yang menjumpai Ramadhan dan melewatinya tapi dosa-dosanya tidak diampuni.” Maka aku mengucapkan ‘âmîn’. Pada tangga kedua Jibril berkata:

شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ

Artinya: “Celaka orang yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya tapi hal itu tidak bisa memasukkannya ke surga.” Maka aku mengucapkan ‘âmîn’. Pada tangga ketiga Jibril berkata:

شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ

Artinya: “Celaka orang yang ketika namamu disebut di dekatnya, tapi ia tidak bershalawat padamu.” Maka aku mengucapkan ‘âmîn’. (Imam al-Bukhari, al-Adabu-l Mufrad, bab Man Dzukira ‘Indahu an-Nabiyyu Falam Yushalli ‘Alaihi).

Doa tersebut disampaikan oleh malaikat terbaik dan diaminkan oleh manusia sekaligus makhluk terbaik. Maka sungguh rugi orang beriman yang dosanya tidak diampuni oleh Allah setelah berlalunya Ramadhan. Nau’udzubillahi min dzalik.

Semoga kita semua bisa memperoleh ridha Allah dan fadhilah atau keutamaan Ramadhan serta dijauhkan dari akhlak tercela yang bisa membatalkan pahala puasa. Âmîn yâ rabbal ‘âlamîn.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

7

k

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *