Sumba Barat Daya (Kodi)-Suara maureket.com Rabu 11 februari 2026 -Dahulu kala diabad ke 16 (1600.M) Datuk pati mangi yang memeliki peranan penuh dalam pembagian wilayah khusus suku kodi,bahkan diwilayah sumbawa beliau sering diterima nasiat-nasiat beliau dibeberapa kesultanan baik Demak (Jawa tengah),kesultanan Bima(Sumbawa) ,hingga ke Gua dan kerajaan Tallu beliau diterima nasiat-nasiat sebagai Mufti kodi Pada beberapa kerajaan.
Datuk Pamingi Dengan nama Asli Datuk Soleman dan bergelar Khatib Sulung adalah seorang ahli dari bebagai disiplin ilmu beliau dari Koto Tangah, Minangkabau,Sumatera Barat
Begetu juga Datuk pangeran Tebo (Ratu Tebo) Beliau seorang Mufti kodi dari Sumatera Jambi ,mereka bersama-sama dengan Abdullah Ngudung (Umbu Dulla),Ario Teja (Teda Guka parona =sang alas babat pararaton),Tuan Ndara Raba kabah (nama asli Abdurrahman) dari pamekasan madura keluarga Ndara Saud (mufti kodi dimadura sumenep) jatim
Pengeran tebo,Teja (Teda),Datuk pati mangi,Umbu Dulla (abdullah Ngudung),Ndara Raba kabbah,Abdurauf as sangkili (Rahufu),Hamengkubuwono (Wono) raja Mataram yogjakarta,DKK ,telah sepakat dalam kisah polimik politik dan hubungan diplomatik antara kerajaan satu sama lain ,dibalik itu mereka terkait dalam permasalahan hukum adat setempat ketika ada kasus hukum adat maka mereka memberikan alur kodi nya atau sebagai mufti kodi penentu arah spritual dari segi Agama dan kepercayaan setempat,memang hukum-hukum adat kuno masih cenderung selalu memberikan lewat musyawarah pemilihan apakah sayembara perjodohan antara putri dan putra selalu mereka punya peranan penting dalam keputusan tersebut
Dibalik itu sebagai pemghiburan untuk melatih jiwa nafsu manusia maka dilepaskan dalam hukum kerajaan jika berperang ada rambu-rambu yang diatur,dibalik itu memang tersenonim kisah putri Nyale dari kerajaan mataram saya kira merupakan ilmu jati diri yang dipelajari oleh putri nyale dari segi ilmu marfuah (makrifat) sehingga sesuatu memeliki nilai perubahan penafsiran dari generasi kegenerasi.
Bagi kalangan pengaji teologi secara harafiah tidak masuk akal,akan tetapi secara kehendak yang maha kuasa bisa terjadi sesuatu yang mungkin akal kita tidak terima tapi ilmu marfuah(ilmu marapu) mungkin sangat dekat dengan Tuhan nya kita bisa bertafsir secara logika akan bertafsir secara Hakiki ketaatan individualisme dan Tuhan lah Tahu dalam mencari jati diri seseorang baik wanita maupun laki-laki yang mau mensucikan dirinya .
Dibalik itu pangeran-pangeran diatas tadi mereka lebih cendrung nasiat yang memeliki nilai budaya suku kodi ,sehingga apabila keluar dari medan atraksi pasola jangan ada dendam,binalah hubungan bersuadaraan karena suku kodi dan orang yang mendiam pulau sumba adalah bersaudara itulah nasiat para tua-tua adat yang dwarisi sampai sekarang (Tim redaksi =Gus Mone Al Mughni)

