Tanpa korupsi pun Bisa Berpenghasilan Miliyaran Rupiah,Desa Hendoro sari kec. Menganti kab. Gresik menjadi desa percontohan kajian media ini

Gresik,jatim -suaramaureket.minggu 5 julu 2026 sejarah awal desa ini memeliki cerita yang panjang Pada masa Kerajaan Majapahit, Desa Hendrosari mempunyai nama Desa Wonosari. Wono artinya hutan, sari artinya putik bunga yang manis. Asal usul nama Wono berasal dari banyaknya pohon lontar yang berada didesa tersebut.

Pada waktu iu terdapat sebuah waduk di Desa Wonosari yang terkenal mempunyai penunggu yang cantik sehingga banyak pengunjung laki-laki yang tertarik dan silih berganti datang ke waduk.

Tetapi pengunjung yang datang kesana selalu pulang dengan keadaan sakit, sehingga Desa Wonosari dikenal dengan banyak orang desa “Mlebu waras moleh loro”.

Hal ini terjadi dikarenakan laki-laki yang datang kesana tidak hanya menuju ke waduk, tetapi juga meminum minuman keras. Sehingga istilah loro dalam Bahasa Indonesia artinya sakit itu tidak berarti yang sebenarnya.

Sakit yang dimaksud yaitu mabuk akibat meminum minuman keras yang ada di Desa Wonosari.

Warga Desa Wonosari tidak mau desanya dikenal masyarakat luas dengan citra yang buruk.

Sehingga warga seringkali melakukan berbagai macam ritual untuk menghilangkan kutukan desa yang tidak waras, dan akhirlah bersepakatlah mereka dengan mengganti nama menjadi “Desa Hendrosari”

Hendro artinya raja, sari artinya putik buah yang manis. Sejak digantinya nama Desa Wonosari menjadi Desa Hendrosari, lambat laun menghilangkan kutukan desa “Mlebu waras moleh loro” menjadi sebaliknya. Desa Hendrosari lebih banyak menerima tamu yang ingin mencari sari buah lontar yang diketahui mempuyai banyak fungsi, salah satunya yaitu untuk obat. Sehingga sampai saat ini banyak warga Desa Hendrosari yang mengolah sari buah lontar atau biasa disebut Legen menjadi mata pencahariannya.

Adapun kepala Desa yang pernah menjabat hingga sekarang adalah sebagai berikut:
-Awal wilayah tersebut dibawah kekuasaan Mojopahit

-Temo (…. s.d tahun 1932 ),
-H. Suleman (tahun 1932 s.d 1949),
-Ajib (tahun 1949 s.d 1965),
-Toyib (tahun 1965 .s.d 1982),
-Juwadi (tahun 1982 s.d 1983),
-Kamir (tahun 1983 s.d 1991),
-Kasman (tahun 1991 s.d 1999),
-H. Sinom (tahun 1999 s.d 2013),
-H. Asna Hadi Seputro (tahun 2013 s.d Sekarang).

Dari baba sejarah tersebut seorang kades yang memiliki jiwa kepimpinan akhir melanjutkan progres-progres tersebut

Kepala Desa Hendrosari yang memelopori dan mengembangkan potensi desa menjadi Edu Wisata Lontar Sewu adalah H. Asna Hadi Saputro (biasa disapa Kades Asno).

Di bawah kepemimpinannya, ia mengoptimalkan lahan desa seluas 190 hektare dan ribuan pohon lontar menjadi destinasi wisata ramah lingkungan yang dikelola bersama BUMDes setempat. Edu Wisata Lontar Sewu berlokasi di Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Untuk detail jam buka dan fasilitas terbaru,

Pada forum rapat evaluasi oleh inisiatif pemerintah desa dan warga, kawasan ini mulai ditransformasikan pada tahun 2013 dan diresmikan menjadi Edu Wisata Lontar Sewu pada Februari 2020 untuk memberdayakan ekonomi lokal.

Lima tahun kemudian dari berbagai kalangan akademis mulai tertarik mengadakan kajian ilmiah tentang pemgembangan wisata yang di kelolah Bumdes.
Di awali tahun 2018 ada Program Bina Hibah Desa dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang memberikan hibah sebesar Rp. 40.000.000 ( empat puluh juta rupiah) ditambah pelatihan kepada para pemilik pohon lontar tentang bagaimana memanfaatkan dan mengola buah lontar menjadi berbagai macam hasil olahan seperti buah Siwalan, minuman legen, sampai minuman toak (arak Jawa) serta pelatihan untuk karang taruna tentang pengelolaan tempat wisata.

Dalam pelatihan dengan pembimbing para dosen UNESA tersebut akhirnya lahir nama  Eko Wisata Pelangi Siwalan (2018) yang akan digunakan menjadi nama desa wisata agar lebih dikenal di masyarakat secara luas.

Pertengahan 2018 Desa Hendrosari mengikuti Bursa Inovasi yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Gresik karena sudah ada cikal bakal Eko Wisata Pelangi Siwalan.

Tahun 2019 Desa Hendrosari mengikuti Lomba Desa tingkat Kabupaten Gresik dan berhasil menjadi Juara 3 dan berhak mengikuti program PIID-PEL (Program Inkubasi Inovasi Desa dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal) dari Kementerian Desa dan mendapat hibah sebesar 1,3 Milyar untuk Pengembangan Desa Wisata dan akhirnya berdasarkan kesepakatan desa ditetapkan nama Edu Wisata Lontar Sewu yang soft launching pada 20 Januari 2020 dan Launching yang dihadiri oleh Menteri Desa, Pembagunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar, disertai Gubernur Jawa Timur dan Bupati Gresik pada tanggal 9 Pebruari 2020.

Wisata lontar sewu hanya berjarak 1 km lebih dari surabaya barat yakni benowo,dan nama benowo dari salah satu raja mojopahit yakni pangeran benowo putra dari Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) dari Kerajaan Pajang. Dalam bahasa Jawa Kuno, “Benowo” juga diduga berasal dari kata Benawa yang berarti perahu.

Kisah penaklukan buaya ini bermula dari perjalanan Kyai Ageng Benowo menyusuri sungai menuju muara. Dalam versi cerita rakyat, beliau dikisahkan mampu mengendalikan dan menunggangi buaya-buaya ganas yang menghalangi perjalanannya dengan menggunakan kesaktian dan ilmu spiritual. Berkat peristiwa heroik inilah, wilayah tempat kejadian tersebut diabadikan menjadi Kecamatan Benowo di Kota Surabaya, yang secara administratif berbatasan langsung dengan Kabupaten Gresik.

Kembali pada progres desa hendrosari tentang wisata lontar sewu.

Lontar Sewu menyediakan wisata edukasi untuk anak-anak seperti mengenal hewan, memberi makan kelinci, edukasi sampah, dan pemanfaatan lontar.

Harga tiket masuk ke wisata Lontar Sewu cukup terjangkau, yaitu Rp 8.000 per orang pada saat Senin sampai Jumat. Harga tiket saat weekend Rp 10.000 per orang.

Sementara jika ingin menaiki wahana, pengunjung akan dikenakan biaya mulai Rp 15.000 sampai Rp 25.000. Jam buka dan lokasi Lontar Sewu Lontar Sewu buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 21.00 WIB sementara Minggu mulai 07.00 hingga 21.00 WIB.

Menurut abang tukang parkir egan dimediakan ,Desa Hendrosari yang penulis temui minggu (minggu 5/juli 2026 ) di tempat parkir , nama Lontar Sewu berasal dari banyaknya pohon Lontar atau Siwalan yang jumlahnya lebih dari 3.700 pohon yang tersebar di dua dusun yaitu dusun Hendrosari dan dusun Hendrosalam.

Menurutnya perhari pada penghasilan parkiran sekitar rp 500.000 /hari mas ujar waktu diwawancarai

Sedangkan Pengelolaan tempat wisata Lontar Sewu diatur dalam Peraturan Desa (Perdes) Desa Hendrosari akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Saat ini Edu Wisata Lontar Sewu memperkerjakan 111 karyawan yang seluruhnya adalah warga desa Hendrosari ecamatan Menganti- Kabupaten Gresik, yang bekerja secara bergantian dua sip yaitu sip 1 mulai pukul 07.00 -15.00 WIB dan sip 2 mulai pukul 15.00-21.00 WIB.

Mereka digaji perbulan dengan kisaran gaji antara 2-3 juta per orang/bulan sesuai dengan jabatannya di tempat wisata Edu Wisata Lontar Sewu.

Ada pun omset Edu Wisata Lontar Sewu di Desa Hendrosari, Menganti, mencatatkan omset bervariasi setiap tahunnya. Berdasarkan data BUMDes, pendapatan tahunan wisata ini mencapai Rp5,25 miliar pada 2023. Omset tertinggi tercatat pada masa pemulihan pandemi tahun 2021 yang menyentuh angka Rp8,09 miliar.

Pada periode tahun 2025–2026, Edu Wisata Lontar Sewu di Desa Hendrosari, Gresik, mencatatkan omset yang fluktuatif dengan rata-rata harian mencapai sekitar Rp 10 juta pada hari biasa dan melonjak hingga Rp 32 juta saat akhir pekan. Pendapatan ini dikelola oleh BUMDes setempat dan terbukti memberikan dampak ekonomi masif bagi masyarakat,

Penghargaan nasional

Edu Wisata Lontar Sewu telah mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi, baik tingkat kabupaten maupun nasional, dengan catatan sedikitnya 3 penghargaan utama yang tercatat secara resmi.Penghargaan yang pernah diraih oleh wisata yang terletak di Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik ini antara lain:Juara 3 Desa Wisata Nusantara: Diterima dalam ajang Desa Wisata Nusantara.Juara Nasional Local Hero ISDA: Direktur BUMDes Lontar Sewu meraih penghargaan sebagai Local Hero dan Juara 2 Tingkat Nasional pada ajang Indonesian Sustainable Development Goals Awards (ISDA) 2021.Juara 2 Wisata Buatan: Diberikan langsung oleh Bupati Gresik pada ajang penghargaan pariwisata tingkat daerah tahun 2021.pada waktu itu .

Secara umum bahwa Wisata lontar sewu termasuk wisata terbaik yang dikelolah oleh pemdes sedangkan Di Indonesia pada umumnya juga , terdapat sejumlah BUMDes lain yang sering dijadikan rujukan percontohan nasional, di antaranya:

Desa Ponggok (Klaten): Terkenal dengan BUMDes Tirta Mandiri dan wisata Umbul Ponggok yang beromzet miliaran rupiah.

Desa Panggungharjo (Bantul): Menjadi salah satu desa terbaik nasional dengan BUMDes yang mengelola aneka unit usaha seperti pengolahan sampah dan Kampung Mataraman.

Secara pemikiran sehat dan maju bisa kita mengambil hikmah dan pelajaran dari desa-desa percontohan yang ada di indonesia,memang pemda sudah berusaha melakukan terombosan dalam pengelolaan anggaran Bumdes,namun pendapatan selalu nihil dan bagaikan ditelan Bumi anggaran Bumdes tersebut,ini karena kita tidak pingin maju hanya ia pada saat ada seminar nasional belakang atur saja tanpa memikirkan manajemen pengelolaan menurut pak Dami lanus tiala.SH ,beberapa bulan lalu dimedia grup Bateman Desa kabupaten Sumba barat Daya (Ntt),jika pingin berkembang maka kita butuh tata cara pemgelolaan manajemen keuangan desa ujarnya salah Satu staf pengajar dari kampus negeri di yogjakarta (Tim redaksi Gus Mone Al Mughni)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *