Masjid Raden Billal Sembelih satu (1)Sapi dan dua(2) Ekor kambing Hewan Kurban pada Idul Adha 1447 H Di Desa Wura Homba kec.Kodi Kab.Sumba Barat Daya

Sumba Barat Daya (Kodi)-Suaramaureket.com.27 Mei 2026. Masjid Raden Billal di waiha Lero dirikan pada tahun 2009 , Melakukan menyembelih 1 ekor sapi dan 2 ekor kambing hewan kurban pada perayaan Idul Adha 1447 Hijriah. Takmir Masjid Masjid Raden Billal ,Jumma Pandi Mara Sanggore.S.Pd , menyatakan bahwa hewan kurban terdiri dari satu ekor sapi dan dua ekor kambing.

Imam mesjid Jumma menjelaskan lebih lanjut bahwa satu (1) sapi tersebut merupakan sumbangan dari bapak Surya , salah satu tokoh guru di masyarakat Pero dan merupakan tua kampung adat di waihalero yang hanya 50 meter ke arah barat tempat Mesjid dan ada beberapa Anggota kepolisian Polsek kodi dihadiri juga waktu hari raya idul adha di mesjid Raden Bilal adapun anggota yang hadir;Pak Gasper,Efendi,Pak Umbu sanggore,pak Ayub,Pak Lefri

Hewan-hewan kurban ini nantinya akan dibagikan kepada jamaah masjid, masyarakat sekitar, serta masyarakat di luar daerah. “Kami akan mengirim ke luar daerah yang minoritas Umat Muslim atau sedikit Umat Muslim-nya bahkan yang jarang berkurban,” ujar jumma . Penyembelihan hewan kurban dijadwalkan pada hari Rabu, 27 Mei, 2026 ( Idul Adha),

kami lakukan dilakukan setelah Ba’da Shalat idul adha . Menurut imam mesjid Jumma Sanggore tradisi penyembelihan pada H+1 ini dilakukan karena pelaksanaan shalat Idul Adha yang dimulai pukul 7.00 -7:40 WITA Proses penyembelihan akan melibatkan beberapa petugas profesional yang bekerja sesuai syariat Islam. Ujar imam mesjid Jumma

Hal yang ditambahkan terkait bahwa islam ada di kampung adat waiha Lero hampir bersamaan dengan tiga Ana koda yang ada di kampung adat Maulongge (Maulana),yakni ana Koda Maha (Muhammad Al jailani Al Kodamaha),Ana Koda Wunnu,Ana Koda Baya (Haji Muhammad ,tulisan Raja terakhir Hermanus Rangga Horo ) yang ketik oleh Pendeta Andrias Pati Djawa dan Hasil wawancara Yosef Rangga Lendu alias Yos lendu.Bercerita tentang kedatangan Ana Koda Maryani (Umbu Ali ) alias Ratu Ghahu berawal diperkirakan tahun 1850 M ,

Sebelum kedatangan Datuk Umbu Ali ke kodi masih berlabu di pelabuhan waingapu hingga masih Meminang Putri syarifah Al Gadry bin Abdurahman Al Gadry salah satu keluarga kesultanan pontianak di kalimatan ,karena terjadi masalah perbedaan ilmu Fiqih Muamalah sehingga meninggal istri nya di waingapu dan meninggalkan salah satu anak nya di waingapu ujar nya ibrohim pua Mara sanggore Setelah datang dikodi beliau menikahi salah putri syarifah juga yang leturunan dari pangeran tebo (ratu tebo) dari kampung mete Waihadi wora yang bernama halimah (inna kali ghahu)

Singkat cerita nya Umbu Ali punya putri bernama No’naru pergi nonton pesta woleka di kampung adat mete,tiba-tiba No’naru menari di kampung adat mete asal ibu nya (Kalli ghahu) atau nama islam Halimah ,tersebut sehingga saling olok dalam acara adat woleka ,No’naru pulang dirumah orang Tuanya yakni Ratu Gore (sanggore) sehingga Ratu Gore mengadakan pesta kurban Woleka juga sehingga memotong kerbau jantan yang besar nua tiada tanding dan tanduk nya.setelah disembelih maka ditanyakan pada tamu undangan siapa yang biasa membagikan daging sebagai tanda kehormatan kodi tawarkan pada Raja Dairo ,tindak mampu,jawab ditawarkan pada salah satu tokoh yang berpengaruh dari kodi balaghar yakni Rato Loghe Wudekke yang bisa mampu ujar Koda sigore bapak Amrin.

Namun darah kerbau jantan tadi mengalir dari rumah ratu Gore hingga ke mata waikaderi imbuhnya.Kalau cerita Tiga Anak Koda Di Maulongge yang meninggal sejarah di kodi bangedo desa waikaninyo kedatangan mereka dalam hal berdagang hingga sesampai di muara pero mereka juga menikahi putri-putri syarifah dari kampung adat Waindimu atau dikenal kampung adat Pati Mone dan Ra Mone,Dollo Mbota bin Rangga sangaji (Rangga Hangdi ) bin Abdullah Ngudung alias Ndara wunda alias Penembahan kodi putra sunan Kudus dari jawa tengeh ujar beberapa narasumber diantara Cristian Hadi Hogu,Heke maha,dan beberapa ahli sejarah dari kampung adat Rate Ngaroh .

Salah satu nya sang donatur Untuk pembangunan mesjid yang Datuknya berasal dari Yogjakarta cucu dari Raden Billal sahabat karib nya almarhum Ustadz Hamid Al Gadry dari waikabubuk sumba barat ,yang saling membahu bersama saudara-saudari yang ada di kodi yakni imam mesjid Jumma Pandi Mara,serta beberapa masyarakat yang meminta berdirilah mesjid Raden Bilal

Demi menghormati penyumbang donatur dari yogjakarta (kesultanan mataram yogjakarta) ,maka nama Raden billal diambil dari salah satu cucu nya Raden billal merupakan Keturunan dari kesultanan yogjakarta yang silsilah nya ke sunan Giri (Raden Paku /R.Poka ) dari penyumbang tersebut cikal bakal nama Mesjid Raden Bilal Pada waktu itu datuk Umbu Ali belum mendirikan rumah ibadah yangvperkirakan tahun 1850 hingga 1900 M dan generasi Ratu gore belum bisa membangun rumah ibadah sehingga mengenang kembali sejarah datuk Umbu Ali oleh Aba Ustadz Hamid Al Gadry membangun bersama dengan sauadara-saudari yang ada dikodi Waihalero sehingga tetap teringat ujar Jumma Pandi Mara.S.Pd(Tim Redaksi)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *