Aktivis Relawan Tim Merah Putih “Indria Febriansyah, S.E., M.H.” Mengaku Di Imtimidasi Oleh Orang Tak dikenal,Setelah Menulis Opini Janji Manis Tapi Tak Kubris

Jakarta — Suaramaureket.com ,minggu 10 mei 2026 ,Secara harafiah dahulu para pencari relawan janji manis setelah niat hajat terkabul malahan kacang lupa kulit,itulah politik tidak sehat mengorbankan orang lain demi diri nya setelah jadi kacang lupa kulit nya ,apa lagi kirim fornaaksi yang kurang abnormal dari segi ilmu agama ,secara hukum agama samawi pelaku itu kalau tidak bertaubat maka tunggu pembalasan dari Allah swt,akan dimintai semua perbuatan mu dihadapan Allah swt,

jika menjadi pemimpin yang adil ,maka hormatilah janji-janji ,jangan janji seperti karakter dajjal tapi berjanji seperti sang ratu Adil yakni Imam mahdi ,ambil karakter itu sehingga menjadi pemimpin adil,apalagi jika ada karakter yang tidak peduli terhadap sesama itu sangat berbahaya,Ambil gaya kepimpinan Gus dur yang lebih menghormati Masyarakat kecil ketimbang pejabat yang tidak jujur,Ambillah karakter Soeharta yang tegas dan berwibawa di dunia serta ditakuti oleh pemimpin dunia,jangan ambil karakter yang egois ini nasiat Agama bukan nasiat anak jalanan ,mudaha-mudahan yang mengirim gambar pornoaksi sadar diro dan tahu diri kita akan kembali mati sadar laha dari perbuatan maksiat dan dosa ,jangan bicara macan yang ditakuti,tapi jadilah macan yang disegani tapi tidak memangsa sesama makluk.

seperti dalam curhat ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, Indria Febriansyah, mengaku mengalami intimidasi digital setelah beredarnya tulisan opini yang menyoroti nasib relawan non-partai pendukung Presiden Prabowo Subianto pasca Pilpres 2024.

Tulisan opini berjudul “Relawan Prabowo: Mending Jadi Lawan Politik Lebih Dihargai daripada Relawan Loyalis” itu dipublikasikan melalui Blogspot Pemuda Tamansiswa Indonesia dan membahas keresahan sebagian relawan akar rumput yang merasa belum mendapatkan perhatian setelah kemenangan politik tercapai.

Indria mengatakan tulisan tersebut bukan ditujukan untuk menyerang pemerintahan, melainkan sebagai bentuk aspirasi relawan non-partai yang selama ini terlibat dalam perjuangan politik mendukung Prabowo.

“Isi tulisan itu lebih kepada keresahan relawan yang merasa perjuangan mereka belum mendapat perhatian yang layak. Tidak ada niat menyerang pemerintahan,” kata Indria dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).

Menurut penjelasan internal organisasi, tulisan tersebut kemudian disebarkan melalui sejumlah grup WhatsApp relawan pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari. Broadcast itu juga dikirim kepada beberapa tokoh nasional dan figur yang dinilai dekat dengan lingkar pemerintahan, di antaranya Sufmi Dasco Ahmad, Prasetyo Hadi, Edy Prabowo, serta Tyasno Sudarto.

Namun, di tengah penyebaran broadcast tersebut muncul tambahan kalimat yang kemudian memicu polemik.

Kalimat itu berbunyi:

“Akan ada ledakan narasi relawan dari aliansi relawan, ikatan relawan, dan kelompok relawan Prabowo jika tetap kami dilupakan.”

Indria mengaku sempat mempertanyakan mengapa tulisan tersebut dianggap bernada ancaman politik.

“Saya cek ulang isi broadcast. Mayoritas hanya kritik sosial-politik biasa. Tetapi ternyata ada tambahan narasi pada salah satu pengiriman yang kemudian dianggap bernada ancaman,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kalimat tersebut bukan inti utama dari tulisan opini yang disebarkan.

Situasi kemudian berubah pada Minggu pagi sekitar pukul 10.02 WIB. Indria mengaku menerima pesan intimidatif dari nomor tidak dikenal melalui WhatsApp.

Beberapa pesan yang diterimanya antara lain berbunyi:
“Lo jangan macem-macem ya bisa di eksekusi.”
serta:
“Sama pasukan kandang menjangan.”

Selain pesan intimidatif, pihak organisasi juga mengaku menerima kiriman video asusila yang wajahnya diduga telah dimanipulasi menyerupai Indria.

Pihak internal Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia menilai tindakan tersebut telah melewati batas kritik demokratis karena mengarah pada serangan personal dan dugaan intimidasi digital.

“Kalau kritik dibalas argumentasi itu biasa dalam demokrasi. Tetapi kalau sudah masuk ancaman dan penyebaran konten manipulatif, tentu ini berbeda,” ujar salah satu pengurus organisasi.

Organisasi tersebut menduga ada upaya pembunuhan karakter melalui manipulasi visual dan tekanan psikologis terhadap pimpinan organisasi.

Saat ini, pihak organisasi mengaku tengah mengumpulkan bukti digital dan mempertimbangkan langkah hukum terkait dugaan ancaman, pencemaran nama baik, dan penyebaran konten manipulatif melalui media elektronik.

Di sisi lain, kasus tersebut juga disebut mencerminkan keresahan sebagian relawan non-partai yang merasa mulai tersisih dalam dinamika politik pasca pemilu.

Indria menilai banyak relawan akar rumput selama ini bergerak karena loyalitas dan keyakinan politik, bukan karena kepentingan jabatan.

“Relawan akar rumput sebenarnya tidak selalu menuntut jabatan. Banyak yang hanya ingin diakui sebagai bagian dari sejarah perjuangan politik itu sendiri,” katanya.

Meski mengaku mengalami intimidasi, Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia menegaskan tetap mendukung stabilitas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Mereka juga meminta agar kritik dan aspirasi relawan tidak langsung dianggap sebagai ancaman politik.

“Jangan sampai budaya intimidasi tumbuh hanya karena ada kritik dari kelompok yang sejak lama ikut berjuang,” tutup pernyataan internal organisasi

Mudahan -mudahan para penegak hukum bisa memberantas Nomor-nomor hp yang gatal tangan tapi tidak bertanggung jawab dan mudahan tamgan nya para pelaku bukan seperti yang berzina pesan media .(Tim Redaksi)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *